Dukung Pemberantasan Pencucian Uang, OVO Ikuti Penilaian

Reporter: Tim KONTAN | Editor: Ridwal Prima Gozal

KONTAN.CO.ID – Pada bulan Maret lalu, Kepala Pusat Pe dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Ivan Yustiavandana mengatakan, kejahatan lingkungan berdampak negatif bagi perkembangan ekonomi global, termasuk Indonesia. Untuk mengatasi masalah tersebut, PPATK berkomitmen memberantas kejahatan keuangan hijau sebagai salah satu program dua dekade Gerakan Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU PPT).

Pemberantasan tersebut mendapat sambutan positif dari banyak perusahaan teknologi keuangan, salah satunya OVO.

Perusahaan tekfin unicorn pertama di Indonesia itu mendukung program PPATK dengan menilai proses penilaian Financial Action TASK Force (FATF), yaitu anti-pencucian uang dan pencegahan pendanaan internasional.

Presiden Direktur OVO Karaniya Dharmasaputra menjelaskan, terpilihnya OVO merupakan suatu kehormatan besar, terlebih dahulu harus melalui proses yang cukup panjang. Ia pun berharap, terpilihnya OVO untuk mengikuti proses yang membuat industri keuangan Indonesia lebih dikenal dalam kancah internasional.

“Suatu kehormatan besar bagi OVO terpilih sebagai penilaian atas penilaian yang dilakukan oleh tim ases FATF. OVO mendukung upaya pemerintah melalui kepatuhan dan penerapan aturan APU-PPT dari Bank Indonesia dan PPATK. Selain itu, ini merupakan kesempatan untuk berkontribusi lebih demi kemajuan industri dan negara, bahkan di ranah global,” kata Karaniya dalam keterangan resminya.

Dalam prosesnya, Tim Asesor Mutual Evaluation Review (MER) FATF yang terdiri dari perwakilan 9 negara, mengunjungi Indonesia mulai tanggal 18 Juli 2022 hingga 4 Agustus 2022 untuk memenuhi kepatuhan Indonesia dalam penerapan program APU-PPT sesuai dengan rekomendasi FATF.

Kemudian, OVO bersama regulator serta lembaga perwakilan industri lainnya terlibat dalam proses evaluasi sebagai perayaan keanggotaan Indonesia di FATF. Proses evaluasi ini juga menghargai karena posisi Indonesia sebagai negara G20 yang belum menjadi anggota penuh FATF.

Padahal, upaya proses keanggotaan ini sudah mulai dilakukan sejak tahun 2018, tepatnya setelah penilaian dari FATF Recommendation oleh Asia/Pacific Group on Money Laundering (APG). Setelah penilaian tersebut, Indonesia kemudian mendapat status “Observer” sejak Juni 2018.

Dengan perjalanan panjang itu, Ivan mengaku bukan perkara mudah bagi OVO untuk menjadi anggota penuh FATF. Hal ini harus dibuktikan dengan integritas dan integritas sistem keuangan yang bermanfaat bagi Indonesia. Dengan dua hal tersebut, perusahaan tekfin punya peran investasi, pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan ekonomi hijau.

“Kepesertaan OVO sebagai salah satu platform pembayaran digital nasional yang sudah konsisten melaksanakan program APU dan PPT dalam beberapa tahun terakhir, diharapkan dapat meloloskan Indonesia untuk menjadi anggota penuh FATF, sebagai cita-cita negara yang sudah dicanangkan sejak 2018,” lanjut Ivan

Untuk menjaga konsistensi keamanan transaksi, Ivan berkomitmen untuk meningkatkan inovasi serta penerapan teknologi baru di OVO guna menjaga prinsip APU-PPT sesuai regulator. Dengan mengacu pada prinsip perlindungan data pribadi, OVO selalu beradaptasi dengan teknologi pada industri untuk memajukan perekonomian nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terima kasih atas perhatian Anda, tersedia voucher gratis senilai donasi yang dapat digunakan untuk berbelanja di KONTAN Store.



Teknologi Pribadi