Perbankan Digital Terus Menjadi Isu Layanan Perbankan

Rabu, 27 Juli 2022 | 17:15 WIB

| Penulis :

Redaktor : Untung S

Jakarta, InfoPublik – Masalah perbankan digital terus karena masalah pandemi Covid-19 masih berlangsung, tetapi memang telah terjadi perubahan dan inovasi di sektor keuangan yang tidak pernah berhenti dan terus berjalan.

Apa lagi layanan perbankan tidak pernah berhenti berevolusi, mengikuti berbagai perkembangan zaman dan teknologi.

Demikian dikatakan Direktur Utama Lembaga Pendidikan Perbankan Indonesia (LPPI), Edy Setiadi, dalam keteranagn tertulis yang diterima pada Rabu (27/7/2022).

Edy memaparkan, konotasi bank sudah tidak lagi dilihat dari ukuran neraca keuangan atau besarnya utangaset produktif, atau tinggi keahlian atau keterampilan yang dimiliki. Sebabnya, saat ini fenomena industri keuangan sudah bergeser pada pengalaman pelangganbahwa bank memilki pelayaan yang lebih sederhana, sangat penghubung dengan pelanggan. “Sehingga, kendati sekalipun bank layar kecil, tetapi tetap mampu bersaing jika penuh dengan variasi teknologi,” jelasnya.

Pada kondisi tersebut, bank dihadapkan dengan banyak tantangan ke depan. Salah satunya adalah kehadiran teknologi metaverse sebagai ruang virtual bank untuk menjual produk dan jasa bank kepada nasabah. “Tidak hanya dijual secara fisik, tetapi juga melalui metaverse. Jual beli produk dan layanan akan terjadi di sana.” ujar Edi.

Tantangan dan Peluang

Untuk itu, perkembangan teknologi tersebut mendorong bank dan juga nasabah untuk mengetahui apa saja risiko-risiko yang akan muncul dari adopsi teknologi metaverse ini. Maka, menurut Edy, kemuculan berbagai teknologi seperti NFT, metaverse, tentunya harus menjadi perhatian regulator dan pelaku industri dalam melindungi nasabah yang menjadi bagian penting dari dunia keuangan itu sendiri.

Soal challenge metaverse juga diangkat oleh Deputi Komisioner Perbankan I Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Teguh Supangkat.. Dia mengutip sebuah data global, bahwa hingga 2022 Market Cap Web 2.0 Metaverse telah mencapai 14,8 triliun dollar AS. Sementara pengguna Web 3.0 Virtual Worlds telah mencapai 50 ribu pengguna di seluruh dunia. Sementara pendapatan yang telah dibukukan sepanjang 2021 dari ruang virtual ini mencapai 38,85 miliar dolar AS. Dan juga ukuran pasar untuk AR, baik VR dan Mixed Reality telah mencapai 28 miliar dolar AS.

Mencermati perkembangan potensial dari pasar metaverse tersebut, Teguh mengingatkan bahwa ada risiko yang berjalan beriringan. Pengalaman para pengguna metaverse yang telah mencoba untuk masuk dalam layanan tersebut memberikan kesan bahwa tidak sesuai dengan harapan awal.

“Selain itu muncul konsen pengguna pada potensi jawab data pribadi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Ini perlu dimitigasi dengan baik,” ungkap Teguh, menanggapi sebuah survei pengalaman pertama ber-metaverse yang dialami oleh 1.000 responden pada periode survei Januari 2022.

Untuk itu, Teguh meberikan sedikitnya lima tantangan yang perlu diantasipasi terkait perkembangan potential metaverse saat ini. Pertama adalah Keamanan, dimana para pengguna metaverse itu terancam dengan Penindasan Maya, Penguntit dan perilaku tidak menyenangkan di dunia maya itu.

Kedua adalah Data. Ini terkait dengan kemananan dan kearhasiaan data, mengingat ada identitas palsu yang memungkinkan terjadi.

Ketiga adalah Keamanan, mengingat bertautan dengan area IT, di dunia metaverse juga ada ancaman serangan dunia mayadan Tipuan.

Keempat adalah outsourcing. Untuk diketahui, dalam penyelenggaran metaverse yang kebanyakan dikelola secara outsourcingjuga menimbulkan risiko tersendiri.

lalu Kelima adalah Kolaborasi. Dalam metavese pengguna harus berkolaborasi sebagai sebuah ekosistem. Sehingga saldo antar ekosistem akan berisiko ketika satu ekosistem alam turun.

“Sebuah survei pada Maret 2022, mencatat bahwa potensi konsen tertinggi yang harus diwaspadai oleh penggunaan data pribadi di dalam metaverse, karena ada potensi penyalahgunaan online, cyberbullyingdan keselamatan pribadi. Jadi teknologi bergerak memberikan potensi sekaligus risiko,” pungkas Teguh.

Untuk itu, dalam pengembangan teknologi metaverse menurut Teguh, terdapat beberapa area yang perlu dipersiapkan dan dimatangkan yaitu terkait dengan teknologinya itu sendiri. Antara lain terkait dengan peningkatan kinerja untuk avatar dan definisi standar aset digital agar dapat ditransfer antar dunia maya.

“Termasuk juga infrastruktur komersial yang mengintegrasikan dunia maya berupa web 2.0 maupun web 3.0 dengan sistem pembayaran keuangan tradisional. Ada evolusi sistem pembayaran berbasis digital webs aset,” imbuhnya.

Hal lain menurut Teguh terkait dengan infrastruktur pajak, akuntansi, dan sosial yang juga harus terus dikembangkan untuk dapat meregulasi sistem akuntansi yang ada, dikatikan dengan metaverse.

foto: ANTARA


Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau mengganti konten ini dengan sumber . sumber InfoPublik.id

Teknologi Pribadi